Pentingnya pengembangan keolahragaan di lingkungan perguruan tinggi tidak dapat diragukan lagi. Perguruan tinggi diakui sebagai pusat pendidikan yang tidak hanya bertujuan untuk memberikan pendidikan akademik, tetapi juga untuk memperkaya pengalaman civitas akademik dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk olahraga.
Olahraga memiliki peran yang signifikan dalam perkembangan fisik, mental, dan sosial individu. Selain itu, kegiatan olahraga di perguruan tinggi juga berkontribusi dalam membangun komunitas yang sehat dan semangat persatuan di antara civitas akademik, staf, dan fakultas.
Namun, untuk memastikan keberhasilan pengembangan keolahragaan di perguruan tinggi, perlu ada alat yang efektif untuk mengukur dan mengevaluasi perkembangannya. Saat ini, belum ada instrumen yang spesifik dan komprehensif yang mampu menggambarkan secara menyeluruh perkembangan keolahragaan di perguruan tinggi.
Sejalan dengan kebutuhan tersebut, SPORTTRIC (Sports Tracking and Assessment Instrument for College) dikembangkan sebagai alat untuk mengukur perkembangan keolahragaan di suatu perguruan tinggi. Instrumen ini mencakup empat ruang lingkup utama, yaitu Sumber Daya Manusia, Fasilitas, Program yang relevan dengan aktifitas olahraga dan pengabdian kepada masyarakat terkait keolahragaan di perguruan tinggi.
Dalam konteks SPORTTRIC, Sumber Daya Manusia mencakup profil aktifitas fisik dan tingkat kebugaran civitas akademik di perguruan tinggi. Fasilitas mencakup infrastruktur, seperti lapangan, gymnasium, kolam renang, dan fasilitas lain yang mendukung kegiatan olahraga. Program mencakup kegiatan, acara, dan kebijakan yang mempromosikan partisipasi dan perkembangan keolahragaan di perguruan tinggi serta pengabdian masyarakat yang terkait dengan keolahragaan baik berupa program maupun fasilitas yang diperuntukkan ;masyarakat umum.
Pada penelitian sebelumnya telah dikembangkan tentang konsep "kota olahraga" (sport cities) sebagai salah satu manifestasi terbaru dalam dunia olahraga secara global, dan ini dapat memberikan wawasan yang berharga dalam peoses pengembangan SPORTTRIC. Konsep ini telah banyak digunakan untuk membenarkan biaya infrastruktur olahraga baru dan memperpanjang manfaat ekonomi dari event olahraga besar di suatu kota. Namun, belum banyak penelitian yang secara kritis mengevaluasi aspek sosial dari konsep “kota olahraga”, termasuk manfaat sosial dalam perencanaan kota olahraga (1). Olahraga memiliki kapasitas untuk memberikan kontribusi positif dan negatif bagi masyarakat. Di satu ujung kontinum, ada pandangan yang mendukung bahwa olahraga memiliki potensi untuk menghasilkan manfaat sosial yang positif. Beberapa penelitian telah mencoba menjelaskan manfaat sosial yang dihasilkan oleh olahraga dalam berbagai konteks. Beberapa manfaat sosial dari olahraga termasuk manfaat psikologis, inklusi sosial, modal sosial, kemajuan sosial, kesehatan, dampak pada generasi muda, generasi tua, dan orang-orang dengan disabilitas, serta keterlibatan warga masyarakat. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa olahraga berkontribusi secara signifikan pada kesejahteraan sosial dan ekonomi.
Dalam lingkup ini, kami akan menggunakan kerangka konseptual dari bidang perencanaan kota dan olahraga sebagai referensi dalam mengembangkan SPORTTRIC. Kerangka kerja ini akan memungkinkan kami untuk mengeksplorasi sejauh mana aspek sosial telah dipertimbangkan dalam pengukuran dan evaluasi pengembangan olahraga di lingkungan perguruan tinggi. Dengan menganalisis area penelitian yang belum terlalu dikaji dan mengintegrasikan konsep-konsep yang relevan, SPORTTRIC akan memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai kontribusi sosial dan dampak positif olahraga bagi mahasiswa di universitas.
Di sisi lain kaitannya dengan kebiajakan olahraga di perguruan tinggi, temuan penelitian sebelumnya menyoroti bahwa tujuan utama olahraga di perguruan tinggi kini lebih berfokus pada pengalaman mahasiswa secara menyeluruh; melibatkan mahasiswa dalam olahraga dan berkontribusi pada meningkatkan perekrutan mahasiswa, retensi, kepuasan, kesehatan mental, dan keterampilan lulusan. Meskipun demikian, terdapat perbedaan pandangan mengenai sejauh mana para pimpinan perguruan tinggi menyadari peran olahraga dalam mencapai tujuan tersebut. Analisis kebijakan publik menunjukkan bahwa faktor pendorong strategis lebih bersifat internal daripada eksternal, sementara perguruan tinggi menyadari pentingnya bekerja dalam hubungan simbiotik dengan pemangku kepentingan internal dan eksternal. Oleh karena itu, rekomendasi diberikan bagi para pemimpin perguruan tinggi dan pembuat kebijakan olahraga untuk lebih memanfaatkan potensi olahraga sebagai alat untuk mencapai tujuan dalam pendidikan tinggi (2).
Manfaat lain kegiatan olahraga dan aktifitas fisik dalam membangun sumber daya manusia khususnya tenaga pendidik adalah mencegah burnout syndrome. Burnout syndrome adalah kondisi stres kronis yang terjadi sebagai akibat dari beban kerja yang berlebihan dan terus menerus, terutama di lingkungan kerja yang menuntut, seperti pekerjaan yang membutuhkan pemberian emosi yang tinggi. Sindrom ini ditandai dengan tiga dimensi utama: kelelahan emosional, depersonalisasi, dan kehilangan pencapaian pribadi. Burnout dapat menyebabkan perasaan kelelahan yang berkelanjutan, penurunan produktivitas, perasaan tidak berarti, dan masalah kesehatan fisik dan mental yang serius. Sbuah studi telah menunjukkan bahwa olahraga dan aktivitas fisik serta rekreasi memiliki efek perlindungan yang signifikan terhadap sindrom burnout di kalangan staf pengajar universitas (3). Manfaat lain aktifitas fisik dan olahraga dalam lingkungan perguruan tinggi bagi mahasiswa juga dituliskan dalam penelitian lainnya yaitu; manfaat sosial, intelektual, dan kebugaran; peningkatan perekrutan dan retensi mahasiswa; kesejahteraan holistik; peningkatan keberagaman pribadi dan sosial; serta penguasaan keterampilan kepemimpinan (4–6). Sedangkan bagi institusi, olahraga juga dapat menjadi alat untuk menciptakan rasa kebersamaan dan meningkatkan nilai institusional perguruan tinggi (7).
Secara umum, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa partisipasi dalam olahraga yang terorganisir memiliki manfaat kesejahteraan yang unik dan tambahan, di luar manfaat yang terkait dengan partisipasi dalam aktivitas fisik rekreasi lainnya khususnya kalangan remaja yang aktif. Hasil ini menunjukkan bahwa pengalaman positif dari partisipasi dalam olahraga yang terorganisir dapat memberikan nilai kesejahteraan tambahan di atas jenis aktivitas fisik rekreasi lainnya, khususnya bagi para remaja yang aktif (8). Hal ini semakin meyakinkan kami, bahwa olahraga dan aktifitas fisik sangat penting untuk menjadi perhatian dalam membangun ekosistem di perguruan tinggi.
SPORTTRIC kami susun untuk membantu perguruan tinggi untuk mendapatkan informasi yang berarti dan akurat terkait dengan hubungan kausalitas keolahragaan dengan ekosistem positif dalam perguruan tinggi. Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa keolahragaan memiliki berbagai manfaat positif bagi perguruan tinggi sebagai suatu Lembaga, maupun bagi civitas akademik. Dengan menggunakan SPORTTRIC perguruan tinggi akan memiliki kerangka kerja yang jelas dan terstruktur dalam menilai tingkat perkembangan keolahragaan mereka. Instrumen ini akan membantu perguruan tinggi dalam mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, dan area perbaikan yang dapat mereka fokuskan untuk meningkatkan program keolahragaan mereka.
Dengan adanya SPORTTRIC, diharapkan perguruan tinggi dapat memberikan lingkungan yang memadai bagi civitas akademik mereka untuk mengembangkan diri dalam bidang olahraga, baik dari segi prestasi individu maupun kontribusi terhadap komunitas perguruan tinggi.




